SDN 1 Mento Gelar Sosialisasi L-Giri Member Literasi

SD Negeri 1 Mento sukses menggelar kegiatan sosialisasi L-Giri Member pada Sabtu, 19 November 2021. Kegiatan berlangsung secara virtual, dibuka oleh host Nurul Beti Hastuti yang memperkenalkan narasumber sekaligus menyapa para peserta webinar yang terdiri atas orang tua peserta didik, peserta didik SD Negeri 1 Mento, perwakilan dari forkompimcam, perangkat Desa Wonoharjo, komite sekolah, dan tokoh pendidikan. Setelah dibuka dengan doa, acara berikutnya diserahkan ke moderator Denik Nugraheni untuk mengelola dan mengatur jalannya webinar.

Narasumber pertama adalah Korwil Bidik Kecamatan Wonogiri, Sukatmi menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya webinar sebagai wahana penyampaian program sekolah, yakni kegiatan L-Giri Member di tengah pandemi covid-19 yang merupakan bentuk inovasi. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik, memotivasi peserta didik untuk gemar membaca. Beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan ini ada tiga ranah yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pelaksanaan. Selain itu inovasi ini merupakan bentuk dukungan terhadap suksesnya Wonogiri Inovation Award (WIA).

Narasumber berikutnya Kepala SD Negeri 1 Mento, Saryono lebih menekankan pada teknis L-Giri Member. Kegiatan inovasi L-Giri Member (Literasi Pagi Hari Membaca dan Bercerita) dilakukan setiap hari pada pagi hari sebelum pembelajaran berlangsung.  Rangkaian kegiatan diawali guru dengan membagikan buku cerita /fiksi kepada peserta didik. Buku-buku tersebut telah disiapkan oleh guru dengan judul sesuai jumlah murid di kelas tersebut. Pelaksanaan membaca kurang lebih 10 menit sedangkan 5 menit untuk kegiatan bercerita. Setelah selesai membaca siswa diminta untuk menceritakan di depan kelas dengan bahasa  sendiri namun sesuai substansi isi buku.

Buku-buku yang telah dibaca diambil kembali/dikumpulkan kembali kepada guru kelas masing-masing. Keesokan harinya buku-buku dapat dibagikan kembali kepada peserta didik namun tidak sama judul buku yang dibaca dengan judul sebelumnya. Buku-buku tersebut kemudian ditukar baca, bagi peserta  yang telah membaca judul buku yang sama sebelumnya dapat menukar dengan judul buku yang lain. Guru dapat menandai buku-buku yang telah dibaca masing-masing anak dengan menggunakan catatan buku kelas.

Sehubungan dengan waktu yang terbatas tidak semua siswa dapat menyampaikan di depan kelas apa yang telah dibacanya. Kegiatan bercerita dilakukan secara acak agar semua siswa siap untuk melakukan presentasi. Jika ada anak yang belum sanggup atau belum mampu presentasi, diberikan punishment berupa menyanyikan lagu wajib nasional di depan kelas. Bagi siswa yang telah mampu bercerita diberikan reward tanda bintang yang dapat digunakan sebagai penilaian portofolio. Awal pekan depan berikutnya siswa yang merupakan perwakilan kelas secara acak diberi kesempatan yang lebih luas audienya bertempat di halaman sekolah secara umum mulai kelas 1-6. Bagi siswa yang memberanikan diri maju dapat reward sedangkan siswa yang tidak berkesampatan maju bercerita untuk menyimak cerita yang disampaikan oleh wakil kelas masing-masing, dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan isi buku. Siswa yang dapat menjawab benar mendapat reward. Reward diberikan kepada siswa untuk memotivasi agar siswa yang lain terpacu untuk mengikutinya atau ikut partisipasi dalam kegiatan tersebut. Bentuk reward dapat berupa alat tulis yang merupakan bantuan dari bapak/ibu guru kelasnya masing-masing. Bahkan ada kalanya berupa uang jajan yang nominalnya tidak ditentukan sesuai keinginan bapak/ibu guru yang menyumbang. Hal tersebut hanya untuk lebih memacu dan memicu peserta didik untuk giat membaca, yang semula biasa menjadi bisa.