Profil Kampung Wayang

Desa Kepuhsari merupakan desa yang masih melestarikan kebudayaan leluhur. Sebagian besar masyarakat masih melakukan tradisi tahlil, kenduri dan sepasaran. Kesenian tradisional sangat di lestarikan oleh masyarakat. Diantara kesenian tradisional yang dapat dijumpai di Desa Kepuhsari adalah angklung, hadroh, seni gamelan, reog dan wayang kulit.

Masyarakat Desa Kepuhsari terkenal dengan keramah tamahannya. Hal ini merupakan ciri khas masyarakat Jawa Tengah yang juga ditemukan di Desa Kepuhsari. Kegiatan gotong royong dan perkumpulan masih sangat mudah ditemukan dikeseharian Desa Kepuhsari.

Masyarakat Desa Kepuhsari sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Sebagaimana pada umumnya msyarakat desa lain, sebagian warga merantau untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Namun, terdapat keunikan di Desa Kepuhsari, yakni selain bertani, masyarakat di desa ini memiliki pekerjaan lain sebagai pengrajin wayang kulit. Pekerjaan ini cukup menunjang perekonomian masyarakat. Tidak hanya itu, jumlah pengrajin wayang yang banyak menjadi ciri khas desa ini sehingga terkenal sebagai Kampung Wayang.

Desa Kepuhsari merupakan sentra industri wayang kulit. Yang menarik dari desa ini adalah kemampuan menatah wayang sudah mengakar kuat dalam setiap diri penduduknya. Sebagian besar masyarakat Desa Kepuhsari memiliki pekerjaan sebagai pengrajin wayang kulit. Tidak kurang dari 80 persen ( delapan puluh ) pengrajin yang sudah profesional sebagai seniman tatah sungging.

 

Hampir setiap rumah memiliki 1 (satu) anggota keluarga yang memiliki kemampuan menatah wayang kulit. Keunikan lain adalah dengan menempatkan pelajaran menatah wayang dalam sekolah menengah setempat sebagai muatan lokal.

Kesenian wayang kulit ini sudah dikelola dengan baik oleh masyarakat Desa Kepuhsari. Hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa sanggar yang menjadi pusat kegiatan berkesenian tatah sungging. Sanggar wayang juga menjadi tempat produksi wayang kulit yang nantinya akan dijual pada peminat wayang kulit. Wisatawan dapat berkeliling desa melihat aktivitas seniman membuat wayang, berfoto, atau membeli langsung produk wayang dari seniman.

Pada awal tahun 2019, Desa Kepuhsari mulai mencoba media baru dalam lukis wayang. Media kain dengan teknik batik menjadi pilihan. Hal ini dikarenakan kegiatan membatik dapat memberikan kegiatan dan penghasilan tambahan kepada perempuan dan ibu rumah tangga di Desa Kepuhsari. Kegiatan membatik wayang kemudian  dilakukan setiap akhir pekan di sanggar Desa Kepuhsari. Produk batik ini kemudian dikenal dengan “Batik Kampung Wayang”.

Wayang kulit dilestarikan tidak hanya dengan media kulit. Kesenian wayang juga dituangkan dalam media lukis kaca. Sama halnya dengan menatah dan menyungging wayang, seniman lukis kaca memberikan pembelajaran melukis wayang kulit dengan media kaca. Hasil belajar melukis kaca disempurnakan oleh seniman dan dibawa pulang sebagai souvenir oleh wisatawan.

Di Desa Kepuhsari juga terdapat dalang-dalang yang kondang dalam pementasan wayang kulit. Pengunjung dapat menunjungi dalang profesional dan diajarkan bagaimana memainkan wayang kulit. Tidak hanya teknik memegang wayang, namun juga memainkan suara dan mendalami karakter masing-masing tokoh wayang.