MGMP Bahasa Indonesia Sosialisasikan UKBI Adaptif Merdeka dan Penguatan Implementasi Kurikulum

MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Wonogiri mengadakan pertemuan reguler pada Kamis, 26 Agustus 2021 dengan agenda “Sosialisasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka dan  Penguatan Implementasi Kurikulum”. Kegiatan dilaksanakan secara virtual menggunakan platform Microsoft Teams dengan peserta  guru bahasa Indonesia di Kabupaten Wonogiri dengan jumlah 170 peserta. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Koordinator MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Wonogiri, Puwanto. Beliau menyampaikan tujuan kegiatan adalah agar peserta vicon dapat memahami lebih dalam tentang UKBI Adaptif Merdeka dan implementasi kurikulum.  Selanjutnya beliau berpesan agar peserta mengikuti acara sampai selesai dan bisa mengimplementasikan apa yang didapat dalam paparan materi.

Paparan materi narasumber yang pertama, Sukidi, adalah sosialisasi UKBI Adaptif Merdeka. UKBI merupakan tes untuk mengukur kemahiran berbahasa penutur bahasa Indonesia yang desain ujinya disesuaikan dengan estimasi kemampuan peserta uji mulai dari kemahiran terendah hingga kemahiran tertinggi. UKBI Adaptif Merdeka diluncurkan oleh Mendikbud pada 29 Januari 2021. Sesuai Permendikbud nomor 70 tahun 2016, bahwa standar kemahiran berbahasa Indonesia adalah standar penguasaan kebahasaan dan kemahiran berbahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis. “Standar kemahiran berbahasa Indonesia diperoleh dari hasil UKBI,” tambahnya.

UKBI Adaptif Merdeka terdiri atas lima seksi, yaitu mendengarkan, merespon kaidah, membaca, menulis, dan berbicara. Kategori hasil dan skor adalah sebagai berikut: I (istimewa) dengan skor 725-800, II (sangat unggul) dengan skor 641-724, III (unggul) dengan skor 578-640, IV (madya) dengan skor 482-577, V (semenjana) dengan skor 405-481, VI (marginal) dengan skor 326-404, dan VII (terbatas) dengan skor (251-325). Khususnya untuk guru bahasa Indonesia, standar kemahiran berbahasa Indonesianya adalah kategori unggul dengan skor (578-640). Sementara standar kemahiran berbahasa Indonesia untuk pelajar SMP adalah kategori semenjana dengan skor 405-481.

Paparan materi kedua tentang Penguatan Implementasi Kurikulum oleh Sriyono.  Beliau menjelaskan tentang diversifikasi kurikulum. Prinsip diversifikasi dalam pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah. Latar belakang keberagaman inilah yang menjadi dasar untuk melakukan diversifikasi kurikulum dalam rangka mendukung pelaksanaan personalisasi pembelajaran.

Kaitannya dengan konten Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dikenal tiga kegiatan pokok yaitu intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler. Selama ini untuk intrakurukuler dan ekstrakurikuler sudah dapat berjalan dengan baik, sedangkan kokurikuler belum berjalan dengan optimal. Kokurikuler bertujuan untuk lebih memperdalam dan menghayati mata pelajaran yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler. Kokurikuler ini bisa berbasis tematik, juga bisa berbasis kompetensi dasar. Kegiatan kokurikuler ini akan masuk pada bagian beban belajar peserta didik dan nilainya akan muncul di e-raport. “Hal teknis mengenai kegiatan ini nantinya akan disosialisasikan lebih lanjut oleh Pengawas Pembina Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri,” imbuhnya.

Pada bagian akhir narasumber memaparkan tentang penguatan pembelajaran. Peserta didik mendatang harus menguasai kompetensi literasi dan numerasi. Literasi harus dikuasai peserta didik agar mampu mengakses, mengolah, dan memanfaatkan beragam informasi dan pengetahuan. Sedangkan numerasi dibutuhkan peserta didik karena di kehidupan abad 21 lebih membutuhkan kemampuan berpikir yang menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk mengambil sebuah keputusan. “Lakukan perbaikan terhadap komponen-komponen perangkat pembelajaran untuk menguatkan kompetensi literasi dan numerasi,” ajaknya mengakhiri paparan materi.