Lestarikan Budaya Jawa, Parno Ajak Guru Nembang

Paket 2 Round KKG Gugus Muh. Syafei digelar Sabtu, 26 Februari 2022 di SD Negeri 2 Jatisrono. Guna mendukung pelestarian budaya, susunan acara disampaikan dengan menggunakan bahasa Jawa. Dengan mengambil tema Pendidikan Karakter melalui Tembang Dolanan dan Macapat, acara terasa kental dengan nuansa Jawa.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya mengalun syahdu sebagai pengantar pembuka kegiatan setelah berdoa bersama. Dilanjutkan sambutan Ketua Gugus, Sri Temu dan Ketua KKG Siti Nurjanah, yang kembali mengingatkan untuk menjaga kesehatan karena di bulan ini banyak rekan-rekan guru yang tumbang karena berbagai gejala penyakit.

Narasumber kegiatan KKG kali ini adalah Parno, beliau merupakan Kepala SD Negeri 1 Pelem, Jatisrono. Selain berprofesi sebagai Kepala Sekolah beliau merupakan salah satu tokoh Pegiat Budaya Jawa yang sangat piawai dalam melestarikan seni musik gamelan atau biasa disebut karawitan. Mengawali acara beliau memperkenalkan dirinya melalui tembang macapat Mijil dan Gambuh. Parno menyampaikan materi dengan ringkas dan mudah dipahami. Peserta diajak untuk langsung mempraktekkan cara membaca notasi tembang dolanan. Agar cara membaca nada dasar mudah dihapalkan, Parno menggunakan contoh notasi tembang dolanan Cublak-cublak Suweng yang sudah familiiar dikenal masyarakat.

Masih menurut Parno, bahwa guru berasal dari akronim kata “digugu lan ditiru” sehingga sudah seharusnya guru menguasai cara melagukan tembang dolanan maupun macapat. Disamping karena keduanya merupakan warisan budaya leluhur, juga mengandung pembelajaran tentang budi pekerti untuk membentuk karakter baik pada anak.

Pada kesempatan KKG kali ini, Paiman selaku korwilbidikcam Jatisrono juga turut mengupas tuntas makna tembang “Gundul-gundul Pacul”. Beliau menyampaikan bahwa tembang ini sudah ada semenjak tahun 1400-an. Bahkan para wali menggunakannya sebagai sarana dakwah. Gundul-gundul pacul dimaknai bagaimana seharusnya perilaku pemimpin yang benar. Bagaimana bertutur, bersikap, mencium sesuatu kejadian, melihat, dan membuat sebuah keputusan. Namun, tidak kalah penting bahwa seorang pemimpin tidak boleh “gembelengan” atau bersikap angkuh dan sok berkuasa karena akan menjatuhkan dirinya sendiri sehingga segala sesuatunya menjadi sia-sia. Acara KKG diakhiri dengan Refleksi, menyanyikan lagu Bagimu Negri, dan berdoa bersama.