KKKS dan FKKG Kismantoro Gali Solusi Permasalahan Aplikasi Hadirku

Kolaborasi antara  KKKS dan Forum KKG Kismantoro menyelenggarakan sosialisasi daring tentang Hadirku dengan tema “Menggali Solusi Permasalahan Aplikasi Hadirku” melalui aplikasi Google Meet  pada Sabtu, 26 Februari 2022 dimulai pukul 09.45 WIB.

Peserta kegiatan meliputi semua guru kelas, guru PAI, dan guru PJOK korwil Kismantoro baik ASN PNS maupun calon ASN PPPK yang berjumlah kurang lebih 100 orang, tampak sangat antusias mengikuti kegiatan sosialisasi. Moderator dalam kegiatan vicon kali ini adalah Ulfa Khoirotul Rosidah sedangkan host adalah Amirudin Yusuf Cahyo Aji. Forum KKKS dan FKKG Ksmantoro memandang perlu melakukan sosialisasi tentang presensi  Hadirku karena masih ditemukan permasalahan dalam penggunaan aplikasi Hadirku oleh beberapa guru dan kepala sekolah dasar di Kismantoro.

Kegiatan diawali dengan  memandu peserta untuk mendengarkan lagu Indonesia Raya, diteruskan sambutan Korwilbiddikcam Kismantoro, Sutrisno, menyampaikan adanya permasalahan yang dihadapi oleh ASN  di Kismantoro terkait dengan penggunaan aplikasi Hadirku dan harus menjadi perhatian ASN.

Kegiatan  dipandu oleh Ulfa Khoirotul Rosidah, guru SDN 3 Lemahbang, membagi dua sesi tanya jawab dipandu oleh narasumber Kepala Bidang Administrasi dan Pembinaan Aparatur Negara BKD Wonogiri, Wahono, yaitu paparan dan diskusi yang diakhiri dengan simpulan.

Narasumber memaparkan bahwa berdasarkan PP nomor 94 tahun 2021  terdapat regulasi baru terkait disiplin masuk kerja yang harus diperhatikan oleh ASN. Beberapa perubahan wajib dipahami oleh ASN agar tidak lagi terpapar pelanggaran disiplin yang merugikan ASN itu sendiri. Berdasarkan data, 70% pelanggaran dalam aplikasi Hadirku dikarenakan ketidakhadiran ASN. Selanjutnya kepala sekolah sebagai atasan harus memperhatikan presensi Hadirku anak buah, dan segera mengambil tindakan jika anak buahnya melakukan pelanggaran.

Pada kegiatan diskusi dan tanya jawab, beberapa peserta menyampaikan kasus-kasus seputar presensi Hadirku, dan meminta penjelasan apa yang seharusnya dilakukan. Pertanyaan pertama disampaikan oleh Kepala SDN 3 Lemahbang, Suyanto, menanyakan apakah linimasa dapat digunakan untuk bukti dari penggunaan aplikasi presensi Hadirku terkait kelalaian yang sering kita lakukan dalam melakukan presensi. Pertanyaan kedua disampaikan oleh Wiyadi, guru SDN 3 Gesing, menanyakan dua hal terkait dengan fitur yang terdapat dalam  presensi Hadirku. Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Pengawas SD Kismantoro, Sutrisno, menanyakan kegiatan dinas luar dan pelaksanaan presensi  kepala sekolah yang isoman serta akumulasi kehadiran presensi Hadirku.

Pertanyaan pada termin kedua diawali oleh Sarmun, Guru Pendidikan Agama Islam SDN 2 Bugelan, menanyakan kehadiran di wilayah terpencil karena kendala sinyal dan permasalahan terkait akumulasi presensi Hadirku. Sementara itu, Kepala SDN 2 Ngroto, Slamet Widodo, menanyakan titik lokasi presensi Hadirku dan berharap atasan dapat  memfasilitasi sistem untuk melihat foto selfi anak buahnya saat presensi.

Narasumber dalam penjelasannya memberikan beberapa regulasi dan pola kerja sistem Hadirku, yang memastikan bahwa sistem tidak akan toleran terhadap kecurangan, namun tetap ada absensi maual yang akan membantu pada saat klarifikasi kepada ASN jika ASN tersandung kesalahan dalam kesalahan penggunaan aplikasi Hadirku. Oleh karenanya, menurut narasumber, Satuan Unit Kerja dan Pengguna Hadirku harus memiliki catatan-catatan yang riil sesuai  kondisi yang terjadi agar pada saat ada klarifikasi penyalahgunaan Hadirku, fakta yang berbicara adalah kebenaran sesungguhnya di lapangan.

Narasumber menutup kegiatan dengan clossing statement kedisiplinan kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Melalui statement tersebut diharapkan kita selalu meningkatkan kedisiplinan demi peningkatan kualitas diri sebagai ASN yang bermartabat.

Pada sesi penutup, moderator menyampaikan kesimpulan dari rangkaian acara yang telah dilaksanakan terkait dengan aplikasi presensi Hadirku. Sebelum mengakhiri pertemuan, host mengingatkan peserta untuk selalu meningkatkan kedisiplinan diri.

Kegiatan ditutup dengan doa, selanjutnya, peserta diminta untuk mengaktifkan video untuk foto bersama sebagai dokumentasi kegiatan.